Jumat, 11 Oktober 2013

Pepaya Biru



“Mah lihat..mewarnaiku bagus to..?” Kata Idham, anak saya yang waktu itu masih duduk di TK kecil. 

Bagaimana saya harus memberi komentar, tugas mewarnainya sungguh berantakan. Ada beberapa gambar pepaya yang dia beri warna seenaknya, ada yang hijau, merah, biru, hitam, dan kuning. Padahal dia sudah faham beragam warna, dan sudah pernah memakan buah pepaya, tapi mengapa pepaya versi dia kok warna-warni?

 “Bagus ya mah..?” Kata dia dengan mata berbinar seolah mengharap saya memuji hasil karyanya. 

“Iya..” Saya meng-iya-kan, berharap senyumnya tidak berubah menjadi ekspresi kecewa jika saya mencerca hasil karyanya. Mungkin banyak yang sependapat dengan saya, bahwa apa yang telah dilakukan Idham bukan merupakan sebuah prestasi yang baik. 

“Pepaya warnanya apa sih mas..?” Tanya saya untuk memancing pendapatnya.

 “Oranye.. Ini yang hijau pepaya masih muda, yang biru sama merah, pepaya yang berbahaya, yang pakai bahan pewarna, yang hitam pepaya busuk,yang kuning udah matang.” Jawabnya sembari menjelaskan satu per satu maksud dari warna-warna tersebut. 

Semula saya pikir dia asal memilih warna, hal yang menurut sudut pandang saya adalah salah, setelah mendengar jawabanya, membuat saya terkejut. Ternyata daya imajinasinya luar biasa dan tentu hal ini bukan merupakan sebuah kesalahan, ini juga merupakan sebuah apresiasi yang baik, ketika saya sering mewanti-wanti dia untuk tidak membeli makanan yang berwarna-warni karena mengandung zat kimia yang berbahaya, dan dia mampu menunjukkan bahwa pepaya yang biru dan yang merah adalah pepaya yang berbahaya.

Hal yang serupa juga pernah terjadi, ketika dia mewarnai wajah tokoh pahlawan dengan warna hijau. Semula saya berfikir, mungkin krayon warna kremnya hilang, sehingga dia menggoreskan krayon hijau di wajah pahlawan tersebut. Kembali saya menanyakan, kenapa wajahnya diberi warna hijau. Lagi-lagi saya dikejutkan dengan jawabannya. Dia bilang itu orang yang lagi berubah jadi hulk. Kadang dia juga mewarnai gambar orang, dengan warna hitam pekat, ketika ditanya, jawabnya itu orang yang nakal, sehingga dibakar di neraka.

Dari sini saya belajar, untuk lebih memahami pilihannya sendiri, tentu bukan tanpa alasan kenapa dia melakukan ini-itu. Saya juga tidak ingin menariknya ke garis konvensional, bahwa warna kulit tidak ada yang hijau, bahwa langit selalu biru, bahwa tugas menggambar bebas itu adalah menggambar gunung dan pemandangannya. Biarlah dia lekat dengan imajinasinya. Jika semua berjalan di atas aturan yang konvensianal, tentu tidak ada nama sebesar Superman, Spiderman dan lain sebagainya. 

 
Comments
3 Comments

3 komentar paling keren:

wina adam mengatakan...

Pola pikir anak tuh unik ya, idham anak yang kreatif, salam kenal mbak

wina adam mengatakan...

Pola pikir anak tuh unik ya mbak, idham anak kreatif, salam kenal

Picapicku mengatakan...

makasih mbak wina..salam kenal juga..amin semoga dia memang kreatif, awalnya gregetan lihat kerjaanya, tapi dibalik itu ternyata tersimpan banyak hal yang tak terduga ^^